Panduan Praktis Perencanaan Keuangan dan Asuransi

Panduan Praktis Perencanaan Keuangan dan Asuransi

Wow sudah lama juga nih saya tidak menulis artikel lagi di sini. Dalam beberapa bulan ini sejak keliling Indonesia untuk memberikan training Employee Smart Money Management akhirnya muncul sebuah ide untuk memberikan training hanya dalam waktu 5-10 menit saja untuk menjelaskan konsep perencanaan keuangan sederhana kepada peserta training. Dan akhirnya berhasil memunculkan panduan praktis perencanaan keuangan sebagai berikut :

Panduan Praktis Perencanaan Keuangan

Ok, sekarang bagaimana membacanya ? Gampang saja mari lihat berdasarkan fase kehidupan seseorang.

Phase – Kelahiran & Balita, pada fase ini seseorang masih sangat begantung pada orang lain dan pada fase ini seseorang cukup dibekali dengan asuransi kesehatan oleh orang tuanya. Ingat ya asuransi kesehatan, bukan asuransi jiwa atau unit link.

Phase – Sekolah, pada fase ini sesorang sudah lebih mandiri dan sudah harus dibekali dengan pengetahuan perencanaan keuangan yang baik dengan memperkenalkan konsep menabung untuk mendapatkan dana darurat, konsep investasi dan yang pasti tetap orang pada fase ini harus dilindungi dengan asuransi kesehatan. Memangnya anak SD sudah bisa diajarkan investasi ? Bisa saja karena di Jepang saja anak usia 7 tahun sudah mulai diperkenalkan dengan dunia saham loh. hehehe

Phase – Menikah, nah pada fase ini seseorang sudah dianggap mandiri dan sudah harus bisa melakukan sendiri perencanan keuangannya yaitu untuk tetap menabung untuk dana darurat kemudian melakukan investasi untuk pensiun, kepemilikan rumah, ibadah haji, dll. Asuransi kesehatan juga masih harus dimiliki terusĀ  plus karena sudah menikah maka si penghasil uang untuk keluarga wajib memiliki juga dengan asuransi jiwa.

Phase – Membesarkan Anak, wah pada fase ini peran seseorang sudah jauh lebih komplek karena sudah harus memastikan kelangungan hidup penerus keluarga yaitu anak. Sama seperti halnya pada fase menikah maka pada fase ini seseorang sudah harus menambah porsi investasinya untuk pendidikan anak hingga anak bisa mandiri.

Phase – Pensiun, pada fase ini seseorang harus tetap bisa hidup mandiri dan karena sudah memasuki usia pensiun maka diasumsikan sudah tidak memiliki penghasilan sehingga tidak ada yang perlu ditabung ataupun diinvestasikan lagi. Justru pada usia pensiun inilah seseorang sudah harus menikmati hasil tabungan dan hasil investasi yang telah dilakukkannya sejak usia sekolah dan usia produktif. Bagi beberapa orang di usia pensiun ini masih memiliki tanggungan anak sehingga jiwanya masih perlu diasuransikan dan kalau sudah tidak punya tanggungan maka asuransi jiwa dapat distop dan hanya perlu melanjutkan asuransi kesehatan saja hingga tutup usia.

Kalau perusahaan anda memerlukan pencerahan dan motivasi perencanaan keuangan silakan hubungi kami.

Andreas Hartono
0812 102 6335

Leave a Reply

Your email address will not be published.